Terkadang,orang terlalu cepat menilai.
Lalu kemudian,orang menjadi terlalu cepat bereaksi.
Sejurus kemudian,orang terlalu cepat merespon.
Dimanakah rem dari tindakan kita,analisa yang memperlambat dan membuat kita lebih berhati-hati dalam menyikapi. Sudah terlalu sulitkah orang untuk berdiam,mengamati,jika perlu meneliti,baru kemudian memberi penilaian.
Bukankah orang yang terlalu cepat cenderung kurang berhati-hati. Orang yang terlalu cepat bisa melukai,orang lain,pun diri sendiri.
Hati-hati,jika kau terlalu cepat mengambil kesimpulan,saat ini.
Sunday, January 31, 2016
Terlalu Cepat
Thursday, November 26, 2015
Pedih yang kuat
Kepedihan. Kadang Tuhan ijinkan ada,supaya kita berdiam,dalam linang,dan membayang. Merenung dalam hening,dan mencari. Mengisak,dalam sesak,hingga terdesak. Terdesak oleh gemuruhnya pemikiran dan perdebatan otak. Mencari dalam imaji,apa mauNya hingga semua terjadi.
Lalu,menemukan kelegaan ketika bertelut dalam pasrah yang bercampur resah. Setetes kemilau yang menuntun ke arah cahaya.
Sedikit demi sekelumit,tersibak tirai yang tadinya mendung,berganti pelangi asa membentang di sana.
Setiap kepedihan akan bisa berakhir dengan kisah senada. Asal kita bukan berpijak pada ego yang rapuh seperti kayu yang tergerogoti para rayap. Asal kita mau bersimpuh rendah dalam keagungan kasihNya. Asal mata kita terfokus padaNya. Ya,hanya kita dan Dia,tanpa terkontaminasi pihak ketiga yang tak kan pernah menghantar bahagia.
Selamat bertelut. Selamat menikmati lega dan tenaga.
Wednesday, August 5, 2015
Aku dan Dunia
Kalau aku masih diberi nafas dan tak menggunakan dayaku untuk mewarnai dunia, lalu buat apa?
Kalau aku masih diberi melihat, dan tidak memperbaiki hal buruk yang aku lihat, lalu buat apa?
Kalau aku masih diberi telinga, dan suara sumbang tak menjadi jernih, lalu buat apa?
Kalau aku masih diberi hati, dan tangisan orang tak kuhibur, lalu buat apa?
Kalau aku masih diberi sepasang tangan, dan tak juga mengulurkan bantuan, lalu buat apa?
Kalau aku masih diberi dua kaki, dan tak kuhampiri luka untuk dibalut, lalu buat apa?
Kalau aku masih hidup dan berada di dunia yang masih butuh kasih, dan kemudian warna yang kutebar bukanlah warna sukacita namun justru gelap gempita... aku tak beda dengan kotoran yang pantas dibuang dan dihilangkan.
Bersujud hatiku memohon ampun untuk setiap laku, pikir dan kata, yang masih tak berdaya melawan desakan dunia. Bukan ini yang Dia minta.
Bersimpuh kakiku menundukkan diri merasa hina, seraya memohon kekuatan. Bukan dari dunia, tapi dari Dia yang menjadikanku ada di dunia.