Tuesday, March 10, 2015

Saya

Bagaimana saya bisa jadi seorang ibu.. jika tingkah laku saya masih belum bisa ditiru..
Bagaimana saya siap jadi orangtua,jika belum bisa jadi contoh buat anak-anak saya nantinya..

Semua harus dimulai dari diri sendiri.. dari setiap hal kecil semoga suatu saat nanti saya pantas jadi panutan untuk keturunan berikutnya.. amin..

Monday, February 16, 2015

Hatiku PadaMU

Tanpa dibandingkan dengan kita pun, Tuhan sungguh luar biasa..
Tanpa melihat kita yang hina ini saja, Dia memang sempurna..
Tanpa menengok hidup kita yang fana dan bernoda, Dia lebih dari segalanya..
Apalagi jika kita, manusia, mencoba meraba, memahami, mengerti dan memujaNya...
Sungguh tak mungkin cukup abjad dirangkai untuk mendeskripsikan kehebatanNya.. tak mampu kata terucap untuk menceritakan ke-Maha-anNya.. tak juga sanggup energi pikir kita melukiskan keindahan dalam kuasaNya..
Aku hanya ingin memuji, dalam diri yang kecil tak berarti ini..
Memuji Allah yang begitu tinggi, besar, tak terselami..
Memuji bukan dengan kalimat, namun dengan rasa, yang selalu tak sanggup diuraikan oleh sang kata.. Memuji dengan terbata, karena tak bisa juga nafas ini menghembuskan kemerduan pujian untukNya.. Memuji dalam ketidakberdayaan kepada Allah yang tak terbatas kuatNya.. Memuji seperti anak kecil menggapai sesuatu yang sangat tinggi.. Memuji dalam ketidaklayakan, untuk Allah yang kudus dan suci..
Ya, Allahku, Kau sungguh luar biasa bagiku..
Terima kasih, telah mengasihiku..

Monday, February 9, 2015

Kala Terkungkung Banjir

Judulnya boleh sangat artistik.. tapi pagi subuh ini, aku hanya ingin bersyukur..
Bersyukur untuk hujan melimpah yang membuahkan banjir dalam dua hari ini..
Bersyukur untuk keberadaan diri di kantor saat air melimpah ini mengepung area terendah di ibukota, bukan di jalanan, atau kolong jalan layang...
Bersyukur kantor ini cukup nyaman, tidak terendam air seperti kebanyakan bangunan lain di Kelapa Gading..
Bersyukur tidak sendirian, ditemani celotehan anak-anak kantor yang konyolnya melebihi pelaku stand up comedy...
Bersyukur tidak kelaparan, makan malam lezat kemarin yang disediakan bos ditambah stock mi instan yang berlebih, cukup menjaga perut ini dari memainkan oskestra kelaparan..
Bersyukur tidak mati lampu, seperti kebanyakan daerah yang mengalami pemadaman karena banjir..
Bersyukur internet masih kencang, mengisi waktu bukan dengan bosan, tapi selancar dunia maya pun mengasyikan...
Bersyukur untuk ketenangan, dari setiap hiruk pikuk, yang membuat pikiran jernih memikirkan makna hidup..
Bersyukur untuk bangun pagi, mendekatkan diri kepada Yang Sejati, dan menuangkan isi hati dalam barisan kata ini..
Bersyukur dan sangat lagi bersyukur, untuk keberadaan suami, yang masih terus berkomunikasi, di radius beberapa kilometer dari sini, dalam keadaan aman terkendali..
Keadaan apa yang masih bisa kau keluhkan jika hati bersyukur itu kau semaikan, jika matamu selalu tertuju pada yang sungguh mengasihimu, melimpahkan berkatNya untukmu dalam setiap tarikan nafasmu..

Wednesday, February 4, 2015

Kepikiran Soal Posting

Mikirin soal postingan (apapun bentuknya) di media sosial, baru kemaren banget ni mikirnya... itupun mikir di sepanjang jalan ke rumah... hiyaakk.. bonusnya tinggal di Bekasi adalah, punya banyak waktu ngobrol sama pikiran kita sendiri di sepanjang perjalanan yang emang beneran panjang. 
Pengen punya "my own rule" untuk posting di medsos. Mulailah mikir, buat apa sih aku posting sebenernya.. motivasinya apah.. kalo orang2 itu (baca : blogger, penulis, inspirator, temen FB, yang pada maen di path)... apa ya motivasi mereka posting.. dst.. dst.. panjang deh, proses mikirnya.. yang ujungnya sampe pada ketetapan hati (ciyee...) ga pengen kaya yang laen yang :
  1. Mungkin posting karna mau narsis.. bahaya soalnya, beti (beda tipis) sama pamer.. Kok bisa? Iyalah.. coba tanyakan yang posting lagi traveling ke luar negeri, yang check in di tempat spektakuler, yang posting gambar makanan-makanan ajaib (harganya yang ajaib).. buat apa coba kalo bukan awalnya narsis, berlanjut pada kebutuhan diakui, dan bahayanya jadi bikin orang lain ngiri.. ya kan.. ya kann... iyalah, saya bisa mantap menjawab IYA, karena saya juga pernah begitu pemirsa... hihihihi...*toyor diri sendiri*
  2. Posting bawaan hati, alias curcol. Sama bahayanya ini. Karna berharap suatu saat nanti tulisan ini bisa jadi inspirasi buat banyak orang.. (huahahahhuueeekkkk..) nah, kalo curcol nya nyinggung orang-orang tertentu yang kebetulan baca gimana cobak..
Jadilah 2 pantangan itu yee.. harus diinget-inget banget sebelum posting apapun ke medsos.
Itu pantangannya, sekarang ngomongin soal panduannya... 
Jadi, pengennya... (sambil komat-kamit berdoa semoga keinginan ini konsisten) postingan apapun itu bisa berdampak positif buat siappun yang ngebacanya. Eiits.. bukan berarti ga bakalan nulis hal-hal buruk, jelek, ato tragis loh ya.. Saya masih manusia normal kok, yang punya cacat, cela, dosa, dan noda.. ya ga mungkin hidup saya ini mulus-mulus saja.. Maunya orang yang baca tulisan saya dapat pelajaran tanpa harus mengalaminya... Biarlah yang nyasar dan baca setiap postingan saya melihat saya apa adanya.. Ike yang biasa, Ike yang bisa aja amburadul hidupnya, Ike yang bolehlah ngambek, marah, sebel, dan lain sebagainya.. tapi pun juga Ike yang bisa jadi semangat lewat cuilan cerita hidupnya... *teriak kenceng : Ameennn!!*

Wednesday, January 21, 2015

Coba-coba

Okeehh.. ini edisi perdana coba2 posting dari enpon.. setelah kemaren berhasil nge-donlot aplikasi blog writer dari playstore..
Gimana rasanyaahh? Serasa lagi curhat sama linier (nama gank.. cieee.. gank,cuy.. sobatan waktu kuliah yang sampe hampir 14 taon ini masih kompak..)
Ngomongin soal linier.. aku bangga punya sobat kaya kalian.. smoga laen kali bisa bikin postingan tentang kalian yah..
Nah.. balik lagi ke aktifitas nulis (ngeblog) lewat aplikasi di telpun pinter (smartphone) ini.. emang sensasinya beda yah dibanding nulis di laptop..
Apa bedanya?
1. Jelas.. lebih kecil layarnya.. jadi tulisan yang kliatan lebih sedikit
2. Lebih kecil keypad nya.. dengan jempolku yang "berisi" ini.. dan ditambah lagi aku yang blom gitu familier sama enpon baru ini.. hiyaa.. ini enpon hadiah dari suami buat ultahku beberapa bulan yang lalu.. nah,jadilah harus pelan2 nulisnya.. sering salah pencet.. salah huruf.. ga lucu kan postingan blog kok banyakan typo nya..
3. Karna mindset kita nulis di henpon kaya nulis whatsapp ato sms.. jadi sering ga nyadar kalo nulisnya disingkat-singkat macem nulis sms ato wa..
Nah.. karna itu.. kayanya harus dobel cek & edit deh ni.. biar cantik tulisannya.. harapannya (ciee.. buasaku formil sangat..) pengennya.. karna udah bisa posting lewat handphone jadi bisa lebih sering posting deh.. amiiiin...

Truuss.. gini aja ni edisi perdana nulis pake enpon nya? Hehehe.. biar ga gini-gini aja aku lampirin poto deh.. skaligus ujicoba juga.. katanya aplikasi ini bisa posting foto..
Ini poto kesegaran jasmani.. haha.. senam kali.. ini kebiasaan baru 2 hari ini.. gayanya bikin infused lemon water.. kliatan sehat banget kan.. semoga niatan sehatnya jalan lancar jaya yak..skali lagi teriakkan.. : amiinnn!!!

Tuesday, August 26, 2014

Mulai Nulis lah...

Dua hari yang lalu, selesai ngajar Public Training - Supervisory Leadership Program, ada seorang peserta, yang mendatangi aku. Dan tanpa diduga, langsung bertanya "mba, blog nya apa?"
Heh? Blog? Sempet bengong sesaat jadinya.. Darimana ibu ini tau aku punya blog. Ciee.. sok "nggaya".. padahal blog ini juga pertumbuhannya lambat.. hiyak... kapan terakhir posting cobak...

Dengan ragu aku jawab juga alamat blog ini.
Hemmm... tapi pertanyaan ibu ini membuatku jadi mikir, merenung.. entah siapa yang membisiki dia buat nanya tentang blog.. mungkin ini salah satu pekerjaan Tuhan yang agak "gatel" ngliat aku hanya berniat menulis.. dan niat itu ga ber-metamorfosa jadi tulisan beneran.. Mungkin Tuhan geregetan karena Dia udah ingetin melalui banyak hal tentang menulis ini.. dan aku masih tetap di level yang sama : berniat!!

Menulis itu ga susah amat kok sebenarnya, yang sulit adalah memulainya... mengubah "berniat" menjadi "menghidupi". Setidaknya sekarang udah dimulai lah ya. ini buktinya.. aku mulai menulis.. hehehe..

Terimakasih buat Bu Rina, peserta training public SLP yang mengajukan pertanyaan menggelitik itu.
Mulai nulis lah....

Monday, August 11, 2014

Siapa aku tanpaNya

Hanya seonggok daging yang menutupi tulang
Hanya sesosok manusia yang tanpa daya
Hanya sepasang bola mata yang tak melihat terang
Hanya mulut yang terkatup tanpa kata
Hanya hidung berlubang untuk melintas sang hawa
Hanya jantung yang berdenyut tanpa nada
Hanya darah yang mengalir tanpa arah
Hanya mekanisme biologis tanpa jiwa
Hanya nafsu yang meraja tanpa kendali
Hanya kaki yang berlari menghindari mimpi
Hanya otak yang kosong tanpa ide
Hanya hati yang hampa tanpa rasa
Hanya cinta yang beku karena lesu
Hanya raga yang tak bertenaga
Hanya jasad, tapi bukan manusia

Siapa aku tanpa DIA..
Siapa Ike tanpa Kristus..
Siapa manusia tanpa Sang Penebus